Jadi Entrepreneur Atau Karyawan

Jadi entrepreneur atau karyawan? Pertanyaan ini pastinya akan sering kali muncul di benak anda ketika anda bingung untuk memutuskan suatu profesi. Memilih satu profesi antara jadi karyawan atau pengusaha mungkin menjadi pilihan yang cukup sulit bagi anda. Akan sangat tidak adil ketika anda membandingkan karyawan berpangkat rendah dengan pemilik perusahaan besar. Banyak dari karyawan yang memiliki performa bagus akan mendapatkan posisi tinggi yang akan memiliki kendali terhadap perusahaan seakan milik sendiri.

Masing-masing pilihan antara jadi entrepreneur atau karyawan memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Semakin banyak perusahaan rintisan (startup) yang dibangun, namun banyak juga yang gagal di tahun-tahun pertama. Menjadi karyawan juga tidak luput dari ancaman PHK dan persaingan dengan rekan-rekan.  Perusahaan besar lahir dari startup yang bertahan dari kegagalan dan mampu tumbuh besar, dan untuk menjadi direktur butuh ketekunan dan kreatifitas untuk dapat naik pangkat.

Menjadi entrepreneur memiliki beberapa kekurangan dan kelebihan. entrepreneur tidak memiliki gaji tetap, bahkan bisa tidak mendapat gaji sama sekali. Disamping bekerja seorang entrepreneur harus memikirkan rencana perusahaannya kedepan. Seorang entrepreneur bebas menentukan target dan tujuan perusahaan yang ingin dicapai. Diri sendiri adalah atasan sekaligus bawahan. Seorang entrepreneur tidak akan mengenal istilah PHK, pemotongan gaji, bahkan pensiun.

Begitu pula dengan menjadi karyawan, memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. seorang karyawan akan mendapatkan kestabilan dalam urusan gaji. Seorang karyawan tidak perlu berfikir terlalu banyak, cukup menjalankan perintah dari atasan. Seorang karyawan bekerja dengan penuh tuntutan dan tekanan untuk dapat bertahan. Selain itu, kebebasan dan alur kerja karyawan tidak santai karena diawasi oleh atasan. Namun, sebagai karyawan memiliki resiko besar PHK dan pemotongan gaji.

Pandangan umum orang tentang antara jadi entrepreneur atau karyawan harus kita ubah. Menjadi entrepreneur bukan solusi bagi semua orang, masing-masing antara jadi entrepreneur atau karyawan memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Masyarakat kita menganggap seseorang belum dikatakan entrepreneur sukses sebelum ia menjadi besar, padahal banyak perusahaan besar lahir dari orang-orang yang berani meninggalkan kemapanan seorang karyawan dan mengambil resiko untuk berbisnis.

Dengan resiko yang besar, tidak heran jika orang lebih memilih untuk menjadi karyawan. Menjadi karyawan pun tidak selalu mulus, masyarakat kita juga terlalu memikirkan seorang pegawai selalu diasosiasikan dengan kemapanan dan kestabilan. Padahal menjadi karyawan juga tidak luput dari persaingan dari dalam dan sangat bergantung pada kestabilan ekonomi perusahaan, karyawan dapat dengan mudah diganti.

Jadi entrepreneur atau karyawan adalah pilihan antara belajar di satu tempat maupun lainnya. Yang harus kita ubah adalah persepsi masyarakat yang menganggap bahwa perusahaan besar yang mapan akan membawa keuntungan bagi yang bekerja didalamnya. padahal, menjadi entrepreneur atau menjadi karyawan di perusahaan yang sedang berkembang akan sangat membantu kita belajar dan dapat memberikan pengalaman yang hampir sama baik bagi karyawan maupun entrepreneur karena sama-sama membangun bisnis dari awal.

Seorang karyawan akan berkata jika menjadi pengusaha itu lebih enak. Penghasilan lebih besar, tidak terikat dan bebas aturan dari atasan. Tapi ada juga entrepreneur yang berpikir kalau menjadi karyawan itu lebih enak. Kalau jadi karyawan tidak perlu pusing memikirkan perusahaan, gaji pekerja, dan lain-lain. Lalu bagaimana selanjutnya? Jadi karyawan memang lebih enak kalau gajinya besar. Penghasilan tetap dan kea­manan ekonomi keluarga terjamin. Kalau gajinya kecil, tentu beda lagi, jelas karyawan akan pusing juga. Belum lagi di­tambah tekanan perusahaan agar bekerja lebih baik. Begitu pun kalau jadi entreprenrur. Pengusaha tentunya akan sangat enak kalau usahanya maju dan stabil. Tapi pengu­saha yang sering pontang-panting dan pailit, tentunya juga bisa mem­buat pusing.

Dari segi mental sendiri, ka­lau karya­wan mentalnya selalu penuh dengan hitung-hitungan. Mi­salnya, karyawan baru akan kerja kalau digaji. Karyawan juga baru mau menjalani lembur kalau ada uang lembur. Semua perkerjaannya jadi tidak maksimal karena terbebani dengan gaji. Apalagi kalau gajinya kecil, yang ada karya­wan jadi sering ngedumel ketimbang meningkatkan kua­litas dan kuantitas kerja. Selain itu, karyawan sendiri umumnya miskin kreativitas dan inovasi, karena ruang lingkupnya dibatasi oleh posisi/jabatannya dalam perusahaan itu sendiri, atau bisa jadi karena sudah dipatron oleh pola perusahaan itu sendiri.

Kalau pengusaha mentalnya mental bebas. Tidak ada kon­trol dan sistem yang bisa mengatur dirinya. Yang me­ngon­trol dan mengatur dirinya, hanya dirinya sendiri. Pe­ngusaha bekerja karena ia merasa memang harus kerja. Dia lembur karena memang dirinya harus lembur. Segala yang dia kerjakan dengan penuh kepuasaan dan kese­nangan. Apapun yang dikerja­kan orang dengan suka hati, maka hasilnya pun akan lebih maksimal daripada orang bekerja karena tekanan-tekanan.